Kisah Nabi Ismail Disembelih (Bermulanya Air Zam-zam)

78 views

 

Kisah Nabi Ismail Disembelih (Bermulanya Air Zam-zam)
Pixabay.com

Kisah Nabi Ismail Nabi Ismail adalah anak dari Nabi Ibrahim Alaihisalam. Beliau merupakan anak dari istri kedua Nabi Ibrahim yaitu Siti Hajar. Ismail lahir dari rahim Siti Hajar , yang dimana istri pertama dari Ibrahim yaitu Sarah mengizinkan Nabi Ibrahim untuk menikah kembali yaitu dengan Siti Hajar.

Alasan sarah mengizinkan Nabi Ibrahim untuk menikah kembali adalah karena hampir seratus tahun ia belum bisa memberikan Nabi Ibrahim seorang keturunan. Namun meskipun Sarah mengizinkan Ibrahim menikah kembali dengan Siti Hajar, sayangnya Sarah ini dibutakan dengan kecemburuannya.

Sarah cemburu dengan Siti Hajar karena Sarah sangat iri dengan anak yang dilahirkan oleh Siti Hajar tersebut. Sebab di usia tua ia masih belum dikarunia seorang anak sedangkan Siti Hajar yang baru menikah dengan Ibrahim sudah dikaruniai seorang anak.

Nabi  Ibrahim dan Siti Hajar serta Ismail Hijrah

Akibat kecemburuan yang amat besar terhadap Siti Hajar sehingga terjadilah keretakan di rumah tannganya dengan Ibrahim. Dan Sarah meminta agar dijauhkan Siti Hajar dari dirinya. Siti Hajar Berkata :

” Wahai Ibrahim, jika kau masih mencintai aku dan Siti Hajar aku meminta suatu persyaratan. Sebab selama ini aku belum mempunyai seorang anakpun. Sedangkan dia (Siti Hajar) sudah dikaruniai anak. Jika mereka masih tinggal satu atap denganku, maka membuat hatiku hancur”.

Setelah Siti Sarah mengatakan hal itu, Nabi Ibrahim sangat terkejut. Sebab ia tidak pernah melihat perselisihan diantara mereka. Karena permintaan Siti Sarah yang begitu memberatkan hatinya, Nabi Ibrahim mencoba menanyakan maksud dari perkataan Siti Sarah tersebut kepadanya :

” Wahai Dinda, bukanlah kemauanku menikahi Siti Hajar. Tapi semua itu kulakukan karena permintaanmu. Dan mengapa sekarang mempunyai pikiran seperti itu ?”

Nabi Ibrahim menanyakan hal itu kepada Siti Sarah. Namun Sarah hanya diam dan tidak langsung menjawab. Meskipun begitu, didalam hatinya ia juga merasa menyesal telah mengatakan hal itu. Namun disisi lain ia juga merasa iri jika melihat Ibrahim menimang Ismail.

Setelah beberapa lama Sarah diam dan tak menjawab pertanyaan Ibrahim, maka akhirnya Sarar mulai menjawab pertanyaan Nabi Ibrahim tersebut :

” Bukan maksudku untuk mengusir kalian. Namun demi kebaikan kita bersama, aku minta kanda meninggalkan saya untuk memberi tempat tersendiri bagi adikku Hajar. Sebab setiap aku melihat kanda menimang Ismail hatiku terasa hancur”.

Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Ibrahim untuk menuruti keinginan dari istri pertamanya tersebut. Setelah kejadian tersebut, keesokan harinya Nabi Ibrahim membicarakan hal itu kepada Siti Hajar.

Nabi Ibrahim mengatakan bahwa Sarah menyuruh untuk menjauhkan dirinya dari Ibrahim. Nabi Ibrahim juga mengatakan bahwa hal ini juga untuk kebaikan bersama, agar tidak melukai hati Siti Hajar.

Keesokan harinya mereka mulai mempersiapkan pembekalan. Kemudian mereka minta izin kepada Sarah. Melihat hal ini Sarah meneteskan air mata sambil berkata : “Aku minta maaf terhadap kalian. Sebab aku telah melukai hatimu, adikku”.

Melihat Sarah yang meneteskan air mata, Siti Hajar pun juga ikut meneteskan air mata sambil membalas perkataan Sarah : “Tidak apalah kanda, ini adalah suatu ujian bagi kami yang diberikan Allah. Aku mengharapkan kanda tetap sehat wal-afiat setelah sepeninggalanku”. Kemudian mereka saling berpelukan. Siti Sarah juga mengecup pipi dan kening Ismail.

Kemudian berangkatlah Nabi Ibrahim dengan Siti Hajar serta dengan Ismail ke suatu tempat yang belum mereka ketahui tujuannya. Meskipun mereka ditimpa angin gurun dan panasnya matahari, namun mereka tetap melakukan perjalanan mereka. Dan pada akhirnya Nabi Ibrahim dapat petunjuk dari Allah untuk berhenti ditempat tersebut.

Nabi Ibrahim serta Siti Hajar dan Ismail pergi ke suatu kota yang suci yang disebut dengan Makkah. Ditempat itu pula akhirnya Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar bersama dengan Ismail yang masih kecil.

Nabi Ibrahim berkata pada Siti Hajar : Dinda ! “Allah menyuruh kita berhenti dan tinggal disini”. Siti Hajar terkejut sebab ditempat tersebut masih sangat lengang dan tidak ada kehidupan sama sekali. Lalu Siti Hajar berkata :

” Duhai kanda, berarti kita tinggal disini dan menjadikan daerah yang sepi ini perkampungan baru”. Kata Siti Hajar sambil meneteskan air matanya. Di dalam hatinya ia merasa takut dan ngeri jika harus tinggal di daerah gurun yang sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari.

Mendengar perkataan Hajar tersebut sebenarnya Nabi Ibrahim tidak tega, dan ia pun berkata : ” Sebenarnya aku juga tidak tahu hidup disini, namun Allah telah mewahyukan demikian. Kita tidak dapat berbuat apa-apa. Sabarlah dan berdoalah pada Allah agar semua kesusahan dapat diatasi”.

Ditempat tersebut Ibrahim membekali Siti Hajar dan Ismail dengan sedikit bekal berupa makanan dan minuman. Sementara kedaan dan suasana tempat dimana mereka berhenti belum terdapat tumbuh-tumbuhan serta juga tidak ada air. Yang ada hanyalah batu dan pasir kering. (Tempat ini pula yang sekarang menjadi tempat berdirinya ka’bah).

Lalu Nabi Ibrahim meninggalkan istri keduanya tersebut yaitu Siti Hajar dan Ismai di suatu tempat yang dimana tempat tersebut sama sekali belum terdapat kehidupan. Sementara itu Nabi Ibrahim tetap turun dari dataran tinggi meninggalkan kota Makkah dan menuju kembali ke Palestina, untuk menemui istri pertamanya yaitu Sarah.

Dalam perjalanannya tersebut, Nabi Ibrahim hanya dapat berdoa memohon kepada Allah untuk melindungi kedua orang yang beliau sayang yang telah ia tinggal di kota Makkah.

Akhirnya setelah kurang lebih hampir seratus tahun, atas izin Allah maka Siti Sarah dapat mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishak. Dan anaknya kemudian diangkat sebagai Nabi.

Terjadinya Sumur Zam-zam

ilustrasi air zam-zam
Pixabay.com

Setelah Siti Hajar di tinggal oleh Nabi Ibrahim, maka ia megurusi Ismail dengan seorang diri. Sebab tidak ada lagi tempat untuk berbagi suka maupun duka. Ia hanya menyerahkan semuanya kepada Allah SWT, karena ia yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang menderita.

Pada pagi hari matahri sudah mulai terik seakan-akan memanggang bumi. Meskipun didalam tenda namun suhuny masih terasa panas. Hal ini membuat Ismail yang masih kecil merasa tidak tahan lagi. Akhirnya ia menangis sejadi-jadinya, Siti Hajar yang mempunyai perasaan yang halus dan lembut segera menyusui Ismail dengan penuh kasih sayang.

Setelah merasa kenyang dan tidak haus lagi maka Ismail mulai terdiam dan tertidur. Namun haus mulai muncul pada Siti Hajar. Setelah Hajar menidurkan Ismail, lalu ia mencoba pergi untuk mencari air untuk menghilangkan rasa haus yang ia rasakan.

Siti Hajar memandang sebuah bukit yang jauh dari tendanya, ia merasa melihat bukit tersebut tampak hijau, lalu ia pergi di bukit tersebut sambil berlari untuk mencari air. Namun setelah ia sampai disana, ia tidak menemukan apa-apa dibukit tersebut.

Kemudian Siti Hajar menoleh ke belakang dan matanya tertuju pada sebuah tempat lain yang tampak biru seperti air. la menuju tempat yang dilihatnya, Namun yang dijumpainya itu bukanlah air. Hanya penglihatannya saja yang diliputi fatamorgana.

Setelah usahannya mencari air kesana-kesini gagal maka ia kemudian kembali lagi ke perkemahanmya. Sesampainya di perkemahan, ia menemukan Ismail sedang menangis sejadi jadinya. Lalu Hajar mencoba menyusui Ismail dengan air susu yang sudah tidak deras lagi. Meskipun begitu Ismail masih dapat diam dan tertidur pulas.

Akhirnya Hajar kembali keluar untuk mencri air kembali. Seperti biasa ia berlari terus dari satu tempat ke tempat lain lagi untuk mendapatkan sumber air. Hingga ia berlari sebanyak 7 kali, sehingga membuat ia semakin haus. Lalu ia kembali pulang ke perkemahannya dan menemukan Ismail kembali menangis. Lalu Hajar mulai berdoa kepada Allah :

” Ya Allah yang Maha Mendengar dan Mengetahui. Tolonglah hambamu yang lemah ini. Kami tidak tahan dengan ujian yang berat ini, ” kata Siti Hajar sambil menyusui anaknya. Namun air susu itu sudah tidak keluar lagi. Tangisan Ismail semakin keras.

Sungguh Allah mendengar doa hambanya yang sedang kesusahan, maka dengan kekuasaan-Nya tanah yang dihentk-hentakkan oleh Nabi Ismail tiba-tiba memancarkan air yang sejuk dan jernih.

Ketika itu Siti Hajar belum mengetahui sumber air yang ada didekatnya karena sangat khusuknya berdoa. Setelah merasakan pakaiannya basah barulah tersadar. Begitu melihat air yang memancar dari tanah bekas hentakan kaki Ismail, Hajar segera bersujud.

Gallery for Kisah Nabi Ismail Disembelih (Bermulanya Air Zam-zam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.