Kisah Cinta Ali dan Fatimah Setelah Menikah

234 views

 

Kisah Cinta Ali dan Fatimah
Pixabay.com

Kisah Cinta Ali Dan Fatimah Kisah cinta Ali dengan Fatimah memang luar biasa indahnya, cinta yang  selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun dalam ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan kisah cinta mereka dengan sebuah ikatan yang suci yaitu pernikahan.

Karena kisah cinta mereka begitu sangat rahasia, bahkan konon katanya setan saja tidak mengetahui urusan cinta diantara mereka. Sudah lama Ali jatuh hati dengan Fatimah, beliau pernah tertohok dua kali pada saat Abu Bakar dan Ummar melamar Fatimah. Sedangkan dirinya masih belum dapat melakukannya.

Namun Ali selalu bersabar untuk menunggu waktu yang tepat melamar Fatimah, dan memang akhirnya kesabaran beliau berbuah manis. Ternyata lamaran kedua sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ditolak oleh Rasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri untuk melamar Fatimah meskipun hanya dengan modal baju besi, namun ternyata diterima oleh Rasulullah.

Disisi lain ternyata Fatimah sudah lama memendam rasa cinta kepada Ali. Seperti yang sudah dijelaskan dalam sebuah riwayat pada saat mereka sudah menikah, Fatimah mengatakan sesuatu kepada Ali :

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”,

Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.

Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”.

Awal Mula Ali Melamar Fatimah

Dikisahkan, Ali bin Abi Thalib sedang ingin melamar Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW tersebut. Namun karena Ali tidak memiliki uang untuk membeli mahar, maka Ali membatalkan niatnya untuk melamar Fatimah. Kemudian Ali berhijrah untuk bekerja dan berusaha mengumpulkan uang.

Pada saat Ali sedang bekerja keras, beliau mendengar sebuah kabar bahwa Abu Bakar akan melamar Fatimah. Ali sangat sedih mendengar hal itu, sebab wanita yang dinginkannya ternyata akan dilamar oleh seseorang yang ilmu agamanya lebih hebat darinya. Namun meskipun begitu Ali tetap bekerja dengan giatnya.

Lalu setelah beberapa lama kemudian Ali mendengar kabar bahwa lamaran Abu Bakar pada Fatimah ditolak. Ali sedikit tertegun dan sangat bergembira tentunya, karena berarti Fatimah tidak akan menikah dengan Abu Bakar. Setelah Ali mendengar kabar tersebut, Ali segera kembali bekerja dan cepat mengumpulkan uang untuk melamar Fatimah.

Namun tak lama setelah penolakan itu, Ali mendengar kabar lagi bahwa Fatimah akan dilamar oleh Umar bin Khatab. Dan sekali lagi ternyata Ali didahulukan orang lain lagi. Hal ini membuatnya sedih, namun tak lama setelah itu Ali mendengar kabar bahwa lamaran Umar ditolak. Betapa senangnya Ali mendengar hal itu.

Tapi tak lama kemudian, kesenangan Ali kembali memudar sebab terdengar kabar lagi bahwa Fatimah akan dilamar oleh Utsman bin Affan. Dan ini sudah ketiga kalinya Fatimah akan dilamar. Ali pun berkata : “Mungkin kali ini diterima. Kalaulah Usman tidak melamar Fatimah secepat ini, Insya Allah tidak lama lagi saya akan melamar Fatimah tapi apa hendak dikata  adakah mau mengalah?”.

Dan tidak lama terdengar kabar lagi bahwa lamaran Utsman bin Affan ditolak. Hal ini membuat semangat Ali berkorban lagi, ditambah lagi para sahabat-sahabatnya mendukung Ali. Para sahababtnya pun berkata :

“Pergilah Ali, lamar Fatimah sekarang, tunggu apa lagi?? kamu kan sudah bekerja keras selama ini, kamu juga sudah mengumpulkan harta dan cukup untuk membeli mahar. Tunggu apa lagi???Tunggu yang ke4 kalinya??? baik cepat!!!”

Kemudian Ali memberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad dengan niat untuk melamar Fatimah yaitu anak beliau. Dan akhirnya lamaran Ali pun diterima oleh Rasulullah yaitu ayahnya Fatimah. Ali pun sangat bahagia dan segera menikahi Fatimah setelah lamarannya diterima.

Ali dan Fatimah Akhirnya Menikah

Kisah Cinta Ali dan Fatimah Setelah Menikah
Pixabay.com

Ternyata memang sejak dulu Fatimah sudah memendam rasa pada Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitupun dengan Ali yang sejak dulu mencintai Fatimah. Namun mereka berdua saling memendam rasa dan sabar menunggu waktu yang tepat untuk mereka bisa bersatu dan sampai ijab qabul di ucapkan dan syah.

Meskipun sudah 3 kali Ali didahulukan orang lain dalam melamar Fatimah, namun ternyata kekecewaannya tersebut terbayar sudah dengan diterimanya lamaran beliau dan akhirnya menikah dengan Fatimah.

Cinta adalah hal fitrah yang tentu dimiliki setiap orang , namun bagaimanakah cara kita dalam menyikapi cinta tersebut agar bukan cinta yang mengendalikan diri kita, namun diri kitalah yang mengendalikan cinta.

Dengan menggadaikan bajunya tersebut dan rumah yang sebelumnya ingin disumbangkan sahabat-sahabatnya namun Nabi bersikeras agar ia membayar bakinya. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya Abu Bakar, Umar dan Fatimah. Dengan keberanian untuk menikah.

Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan disini cinta tak pernah meminta untuk menanti, seperti Ali. Ia mempersilahkan atau mengambil kesempatan tersebut. Yang pertama adalah pengorbanan dan yang kedua adalah keberanian.

Dalam sebuah riwayat mengatakan bahwa suatu hari setelah mereka menikah Fatimah berkata kepada Ali :

Fatimah : “Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu, aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu”.

Ali : “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang,aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lamaku pendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”

Fatimah : (berkata dengan lembut) “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tanggakita”.

Ali : “Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu…”.

Fatimah : “Wahai Ali suamiku, maafkan aku,tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah”

Sungguh Ali sangat bahagia mendengar Fatimah mengatakan bahwa ia siap mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Tapi Ali juga terkejut agak sedih karena mengetahui bahwa sebelum menikah dengan Fatimah, ternyata Fatimah telah memendam rasa terhadap seorang pemuda.

Ali agak sedih karena sepertinya Fatimah mau menikah dengannya atas permintaan ayahnya yaitu Rasul. Ali pun kagum dengan Fatimah karena sangat berbakti kepada orang tuanya. Dan merelakan perasaaanya untuk menikah dengannya. Namun memang Ali pemuda yang sangat baik hati, ia memang sangat bahagia sekali menjadi istri Fatimah. Karena rasa cintanya yang tulus terhadap Allah kepada Fatimah Ali tidak mau Fatimah sakit hati karena dirinya.

Ali bingung ingin berkata apa pada Fatimah, perasaannya bercampur aduk. Karena disisi lain ia bahagia menikah dengan Fatimah, namun ia tidak ingin Fatimah terluka. Hingga akhirnya ia tidak menanggapi pernyataan Fatimah

Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali suamiku sayang, Astagfirullah maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik cintaku, raja yang menguasai hatiku.”

Namun  Ali masih saja terdiam, bahkan mengalihkan pandangannya dari Fatimah . Melihat sikap Ali seperti itu Fatimah pun merayu : Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang, aku menantimu Ali”.

Ali pun masih tidak menghiraukan perkataan Fatimah, lalu tiba-tiba Ali berkata :

“Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku dem iuntuk ikatan suci bersamamu, kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka.

Sungguh aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti, aku bisa merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walaupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku.”

Fatimah tersenyum mendengar Ali berkata seperti itu, Ali pun diam sesaat sambil merenung. Tak terasa air matanya menetes, dan kemudian berkata dengan  sangat tulus :

“Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas, lagi pula pemuda itu juga mencintaimu.

Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan, sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela”.

Mendengar hal itu Fatimah pun ikut menangis sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah snagat kagum dengan ketulusan cinta Ali padanya. Ketika Fatimah ingin berkata kepada Ali, Ali pun memotong pembicaraan Fatimah.

“TapiFatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu,namun izinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”

Air mata Fatimah semakin deras keluar dan tak mampu membendung rasa bahagianya, lalu akhirnya Fatimah memeluk Ali dengan eratnya dan menangis tersedu-sedu sambil berkata : ,“Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.”

Berkali-kali Fatimah mengulangi perkataannya tersebut, kemudian Fatimah berkata lagi :

“Wahai Ali, Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kautahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah”.

Ali pun bingung dan berkata pada Fatimah dengan selembut mungkin.

”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah?, sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”.

Lalu Fatimah kembali memeluk Ali dengan erat dan penuh mesra. Dan Fatimah pun menjawab pertanyaan Ali :

“Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini, aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya.

Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku, ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya”

Ali masih bingung, lalu Fatimah melanjutkan kata-katanya tersebut ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…”

Gallery for Kisah Cinta Ali dan Fatimah Setelah Menikah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.