Biografi Cak Nun

217 views

Biografi Cak Nun

Animasi Emha Ainun Najib (cak Nun)

 

Biodata Cak Nun Apakah anda mengenal dengan salah satu tokoh seniman yang satu ini yaitu Cak nun?? Cak Nun yang memiliki nama asli yaitu Emha Ainun Nadjid, lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di daerah Jawa Timur. Cak Nun merupakan salah satu seniman, budayawan, serta beliau juga intelektual Muslim sekaligus penulis antar Jombang.

 

Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang sangat hebat dan terkenal banyak berbagai hal yang bisa beliau lakukan, salah satunya adalah ia mampu merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, dan sinergi ekonomi. Ia pernah menempuh pendidikan disalah satu universitas Yogyakarta yaitu UGM namun hanya bertahan sampai semester 1 saja.

 

Cak Nun juga pernah diusir dari pondoknya yaitu Pondok Gontor Ponorogo, karena melakukan suatu demo melawan pemerintah pada waktu pertengahan tahun ketiga studinya. Lalu kemudian Cak Nun pindah ke Yogya untuk melanjutkan sekolah di SMA Muhamdiyah 1 hingga tamat.

 

Cak Nun mempunyai seorang istri yang bernama Novia Kolopaking, yang terkenal sebagai sorang seniman film, panggung dan sekaligus penyanyi.

 

Biografi Singkat Cak Nun

 

Biodata Cak Nun
Nama lengkap Emha Ainun Nadjib
Alias Cak Nun / Mbah Nun
Profesi Budayawan
Agama Islam
Tempat lahir Jombang, Jawa Timur
Tanggal lahir Rabu, 27 Mei 1953
Zodik Gemini
Warga negara Indonesia
Istri Novia S. Kolopking
Anak Sabrang Mowo Damar Panuluh, Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha

 

Pendidikan Cak Nun
SD Jombang (1965)
SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968)
SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971)
Pondok Pesantren Modern Gontor
Fakultas Ekonomi UGM (tidak tamat)

 

                                                              Karir Cak Nun
Pengasuh ruang sastra di harian masa kini Yogyakarta (1970)
Wartawan / redaktur di harian masa kini Yogyakarta (1973-1976)
Pemimpin teater dinasti Yogyakarta
Pemimpin grup musik kyai kanjeng
Penulis puisi dan columnis dibeberapa media

 

Itu beberapa biodata singkat mengenai Emha Ainin Nadjib atau yang sering kita kenal dengan nama Cak Nun. Dari biodata tersebut kita bisa lebih mengenal sosok dari Cak Nun tersebut. Dari mulai awal karirnya sampai pada kesuksesan karir yang telah ia jalani. Selanjutnya nanti kita akan membahas perjalanan hidup dari Cak Nun.

 

Perjalanan Hidup Cak Nun

 

Sudah hampir lima tahun Cak Nun bergelandng di kota Malioboro, Yogyakarta yaitu pada tahun 1970-1975. Pada waktu itu beliau sedang belajar sastra kepada guru yang dikaguminya itu yaitu bernama Umbu Landu Peranggi. Ia adalah seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan hidup Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.

 

Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

 

Dalam kehidupan keseharaiannya Cak Nun terjun langsung ke masyarakat dan melakukan berbagai aktivitas untuk merangkum serta memadukan dinamika kesenian, agama, politik, sinergi ekonomi dengan tujuan untuk menumbuhkan potensial rakyat.

 

Selain itu pada aktivitas bulanan bersama dengan komunitas Masyarakat Padhang Mbulan, Cak Nun melakukan perjanannya bersama dengan komunitasnya tersebut berkeliling ke berbagai wilayah.

 

Dan ia juga melakukan perjalanan yaitu biasanya dilakukan setiap 10-15 per bulan bersama dengan musik Kyai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Selain itu beliau juga melakukan sebuah acara yang bernama Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an, yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki.

 

Kendari cinta merupakan sebuah acara yang memberikan forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas dalam bentuk yang sangat terbuka, non partisan, serta ringan dan dibalut dengan gelar kesenian lintas gender. Didalam pertemuan sosial tersebut Cak Nun banyak melakukan berbagai dekontruksi pemahaman atas nilai-nilai, dan pola-pola komunikasi.

 

Bersama dengan grupnya tersebut yaitu Kyai Kanjeng, Cak Nun rata-rata melakukan perjaalanan berkeliling ke berbagai wilayah Indonesia setip 10-15 kali per bulan. Dalam berbagai forum bersama dengan komunitas Padhang Mbulan, beliau sering membicarakan mengenai pluralisme yang sering muncul.

 

Dalam forumnya tersebut Cak Nun meluruskan pemahaman mengenai konsep yang beliau sebut sebagai manajemen keberagaman itu. Beliau selalu berusaha meluruskan segala pemahaman yang salah mengenai suatu hal. Baik itu hanya kesalahan etimologi, mamupun pada makna kontekstual.

 

Salah satunya mengenai soal dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi ini. Menurutnya, sudah tidak ada lagi parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara, ayahnya bernama MA Latif dan beliau sudah meninggal. Ayahnya tersebut merupakan seorang petani. Cak Nun menempuh pendidikan SD di Jombang pada tahun 1965.

 

Dan beliau juga sekolah di SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahun 1968, beliau juga sempat masuk pondok di Modern Gontor Ponorogo, namun ia dikeluarkan sebab ia melakukan sebuah demo pada pemerintah yang dimana pada saat itu ia sedang melakukan pendidikan pada pertengahan tahun ketiga.

 

Setelah itu akhirnya kemudian Cak Nun pindah ke Yogyakarta dan bersekolah di SMA Muhammadiyah 1 Yogayakarta hingga selesai. kemudian ia menempuh pendidikan kuliah disalah satu Universitas ternama di Yogyakarta yaitu UGM namun kuliahnya tersebut tidak selesai hanya bertahan pada semester 1 saja.

 

Kemudian ia mulai berkarir, dan karir pertamanya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.

Cak Nun juga sangat sering mengikuti berbagai festival, lokakarya puisi dan teater. Yang pernah beliau ikuti antara lain adalah lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Karya Seni Teater Cak Nun

Banyak sekali hasil karya seni teater yang Cak Nun ciptakan di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989 ) (1989 tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Lautan Jilbab (1990); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993). Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba, di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.

Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi, yaitu “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994)

Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);

Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta” (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *