Biografi Ali bin Abi Thalib Singkat dari Lahir hingga Wafat

612 views
Biografi Ali bin Abi Thalib
Pixabay.com

Biografi Ali bin Abi Thalib  Ali bin Abi Thalib lahir sejak 13 Rajab 23 Prahijrah / 599 M. Beliau wafat 21 Ramadhan 40 Hijriyah / 661 M, adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad SAW.

Ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafa’ur Rasyidin. ‘Ali adalah sepupu dari Nabi Muhammad dan setelah menikah dengan Fatimah Az-Zahra, ia menjadi menantu Nabi Muhammad SAW.

Ali dilahirkan di Makkah, daerah Hijaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut para ahli sejarah, ‘Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 M. Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi Muhammad, karena beliau tidak mempunyai anak laki-laki.

Uzur dan faqirnya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi Muhammad SAW bersama istri beliau yaitu Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi Muhammad sejak kecil hingga dewasa. Sehingga dari kecil Ali sudah bersama dengan Nabi Muhammad.

Biografi Ali Bin Abi Thalib

Nama Ali bin Abi Thalin
Lahir 599 Makkah, Hijaz, Jazirah Atab
Tempat peristirahatan Najaf, Irak
Meninggal 28 Januari 661
Dikenal karena Sahabat dan sepupu Nabi Muhammad
Agama Islam

 

Ali bin Abu Thalib tumbuh menjadi anak yang cepat matang. Di wajahnya tampak jelas kematangannya, yang juga menunjukkan kekuatannya dan ketegasannya. Saat ia menginjak usia pemuda, ia segera berperan penuh dalam dakwah Islam, tidak seperti yang dilakukan oleh pemuda seusianya.

Contoh yang paling jelas keikhlasannya untuk menjadi tameng Rasulullah SAW saat beliau hijrah, yaitu dengan menempati tempat tidur beliau. Ia juga terlibat dalam peperangan yang hebat, seperti dalam Perang Al-Ahzab. Dia pula yang telah menembus benteng Khaibar. Sehingga dia dijuluki sebagai pahlawan Islam yang pertama.

Ali bin Abu Thalib adalah seorang dengan perawakan sedang, antara tinggi dan pendek, perutnya adak menonjol, pundaknya lebar, kedua lengannya berotot, seakan sedang mengendarai singa.

Lehernya berisi, bulu jenggotnya lebat, matanya besar, wajahnya tampan. Kulitnya agak gelap, postur tubuhnya tegap dan proporsional, giginya bagus dan ringan langkah saat berjalan.

Perbedaan Pandangan Mengenai Pribadi Ali Bin Abi Thalib

1. Menurut pandangan Ahlussunnah / sunni

Menurut pandangan Ahlussunnah atau sunni Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang sahabat nabi yang terpandang. Hubungan kekerabatan beliau dengan Rasulullah sangatlah dekat, karena kedekatan mereka sehingga Ali disebut sebagai seorang ahlul bait dari Nabi.

Selain itu Ahlusunnah juga mengakui bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai seorang Khulafaur Rasyidin. Ahlussunnah atau sunni juga menambahkan nama belakang Ali dengan RA atau Radhiyallahu Anhu yang artinya semoga Allah ridha padanya. Tambahan nama tersebut juga diberikan kepada para sahabat nabi yang lain.

2. Menurut pandangan sufi

Jika Ahlussunnah menambahkan nama belakang Ali dengan RA, maka sufi juga memberikan nama belakang Ali dengan Karramallahu Wajhah atau KW, yang artinya semoga Allah memuliakan wajahnya.

Beradasarkan sebuah riwayat, bahwa sufi ini memiliki doa yang menarik yaitu bahwa ia tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal yang buruk bahkan untuk hal yang kurang sopan sekalipun.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah riwayat yaitu bahwa ia tidak suka memandang ke bawah bila sedang melakukan hubungan intim dengan istri. Sedangkan untuk riwayat-riwayat lain menyebutkan bahwa pada saat banyak pertempuran, dan bila baju musuh terbuka pada bagian bawah akibat terkena sobekan pedang beliau, maka Ali enggan meneruskan duelnya sebelum musuhnya tersebut tidak memperbaiki pakaiaannya.

Para ahli sufi menganggap  bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai Imam dalam ilmu Al-Hikmah dan Futuwwah. Dari beliaulah muncullah cabang-cabang tarekat atau yang sering disebut dengan spiritual broterhood. Hampir semua dari pendiri sufi tersebut adalah dari keturunan beliau. Sesuai berdasarkan catatan nasab yang mereka miliki.

Seperti salah satunya yaitu pada tarekat Qadiriyah dengan pendirinya yaitu Syekh Abdul Qadir Jaelani, beliau merupakan keturunan langsung dari Ali bin Abi Thalib melalui anaknya yaitu Hasan bin Ali. Hal ini sudah tercatat dalam sebuah kitab manaqib yaitu Syekh Abdul Qadir Jailani serta kitab-kitab lainnya.

Masa Remaja Ali bin Abi Thalib

Menurut riwayat-riwayat lama yaitu seperti Ibnu Ishaq menerangkan bahwa Ali merupakan laki-laki pertama yang mempercayai wahyu Nabi Muhammad atau merupakan orang kedua setelah Khadijah yaitu istri Nabi Muhammad. Pada hal ini Ali sedang berusia 10 tahun.

Pada saat wahyu Nabi Muhammad turun, hal ini digunakan Ali untuk banyak belajar langsung dari Nabi Muhammad selagi ia masih remaja. Karena sebagai anak asuh dari Nabi Muhammad ia selalu berkesampatan selalu dekat dengan Nabi Muhammad hingga ia menjadi menantunya.

Hal ini juga yang menjadi bukti untuk pembelajaran bagi kaum Sufi untuk soal masalah ruhani. Yang akhirnya kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf, yang diberikan khusus oleh Nabi Muhammad kepada Ali dan tidak diberikan kepada murid-muridnya maupun sahabat beliau lainnya.

Karena ilmu ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu saja dengan kapasitas tertentu. Beda dengan ilmu syariah atau hukum-hukum agama Islam baik itu mengatur dalam hal ibadah maupun kemasyarakatan semua yang diterima nabi harus diterima oleh semua umatnya tanpa terkecuali.

Kehidupan Makkah Sampai Hijrah Ke Madinah

Ketika hijrah ke Madinah dan menetap disana, lalu Ali menikah dengan Fatimah Az-zahra yaitu putri dari Nabi Muhammad SAW. Ali tidak menikah dengan siapapun ketika Ali tahu Fatimah masih hidup.

Ketika Nabi Muhammad mencari Ali menantunya tersebut, beliau menemukannya sedang tidur. Beliau menemukan pakaian atas Ali tersingkap dan bagian punggungnya dikotori dengan debu. Melihat hal itu Nabi Muhammad lalu duduk dan berkata “Duduklah wahai Abu Turab, duduklah.”

Setelah beberapa hari menikah dengan Fatimah maka terjadilah perang Badar yaitu perang yang pertama terjadi dalam sejarah Islam. Dalam peperangan ini Ali benar-benar menjadi pahlawan Hamzah, yaitu paman nabi. Banyak dari kaum Quraisy yang tewas ditangan Ali dalam perselisihan tersebut. Dan akhirnya semua sepakat bahwa ia menjadi bintang lapangan.

Setelah terjadi perang Badar maka terjadilah perang khandaq. Perang ini juga menjadi saksi nyata keberanian dari  Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Karena dengan tebasan pedang milik beliau maka Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.

Kemudian setelah adanya sebuah perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi. Dan akhirnya kemudian perjanjian ini dikhianati oleh kaum Yahudi. Maka pecahlah perang antara kaum Yahudi di benteng Khaibar yang sangat kukuh. Dan akhirnya perang tersebut disebut dengan perang Khaibar.

Dan ketika para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, lalu Nabi Muhammad bersabda : “Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Seluruh orang berangan-angan dapat kemuliaan hal tersebut, namun justru Ali bin Abu Thalib yang bisa mendapatkan kehormatan tersebut serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan membunuh prajurit yang berani bernama Marhab. Lalu kemudian ia tebas dengan sekali saja dan terbelahlah menjadi dua bagian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *